Notification

×

Iklan utama destop

Utama Mobile

Indeks Berita

Tradisi Maleman, Ribuan Peziarah Padati Kawasan Wisata Religi Makam Sunan Ampel Surabaya

Minggu, 15 Maret 2026 | 00:44 WIB Last Updated 2026-03-14T17:45:50Z
Peziarah padati wisata religi makam Sunan Ampel

Surabaya – Tradisi maleman di bulan Ramadhan dimanfaatkan ribuan peziarah untuk berkunjung ke kawasan wisata religi Makam Sunan Ampel di Surabaya. Aktivitas ziarah tersebut terlihat memadati area makam yang berada di kawasan Ampel sejak sore hingga malam hari, Sabtu (14/3/2026).

Berdasarkan pantauan Potretmedia.com, ribuan peziarah memadati kawasan makam yang terletak di Jalan Ampel Blumbang, Kecamatan Semampir. Para pengunjung datang secara bergelombang untuk berdoa dan berziarah kepada para tokoh agama yang dimakamkan di tempat tersebut.

Di kompleks pemakaman itu, para peziarah tampak khusyuk memanjatkan doa di pusara Sunan Ampel, salah satu anggota Wali Songo yang dikenal berperan penting dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Selain makam Sunan Ampel, kawasan wisata religi tersebut juga menjadi tempat peristirahatan terakhir sejumlah tokoh agama lainnya, di antaranya Nyai Condro Wati dan Mbah Bolong.

Peziarah yang datang tidak hanya berasal dari Surabaya, tetapi juga dari berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Madura, Malang hingga Probolinggo. Mereka datang secara berkelompok maupun bersama keluarga untuk melaksanakan tradisi ziarah menjelang malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.

Salah satu peziarah, Erna (23), warga Probolinggo, mengaku setiap tahun datang bersama rombongan untuk berziarah ke Makam Sunan Ampel menjelang tradisi maleman.

“Biasanya saya bersama rombongan datang ke sini menjelang maleman. Kebetulan sekarang malam 25 Ramadhan, alhamdulillah cuacanya juga tidak hujan,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan salah satu petugas parkir di kawasan tersebut. Ia menyebut lonjakan jumlah peziarah biasanya terjadi pada malam-malam ganjil menjelang Hari Raya Idulfitri.

“Biasanya mulai ramai pada maleman 21, 23, 25, 27 sampai 29. Pada malam-malam itu peziarah yang datang jauh lebih banyak,” tuturnya.

Tradisi maleman sendiri telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa, khususnya di Surabaya dan sekitarnya.

Momentum tersebut dimanfaatkan umat Muslim untuk memperbanyak ibadah, termasuk berziarah ke makam para ulama dan tokoh penyebar Islam. (Sug/Red)
×
Berita Terbaru Update
/* script Youtube Responsive */