| Tim Relawan asal Pandaan Pasuruan. |
Lumajang — Dinding duka yang dibangun sejak Rabu, 19 November 2025, tak kunjung runtuh di kaki Gunung Semeru. Erupsi yang memuntahkan awan panas dan lahar dingin bukan sekadar bencana alam; ini adalah tragedi yang merenggut akar kehidupan warga.
Bagi ratusan keluarga, rumah yang mereka bangun dengan keringat bertahun-tahun kini hanya menjadi kenangan yang terkubur. Namun, kehilangan terparah adalah hilangnya sandaran hidup. Mayoritas warga adalah petani dan peternak—mereka menyaksikan sapi, kambing, sawah hijau, dan ladang yang menjadi janji makan sehari-hari, lenyap ditelan pasir panas dan hujan abu tebal.
"Di sana, itu rumah saya. Itu sawah kami. Sekarang? Hanya tumpukan batu," lirih seorang warga sambil menunjuk hamparan abu-abu yang kini tak berbekas. Jejak kehidupan yang ramai kini digantikan oleh sunyi yang mencekam.
Tangan-Tangan Penebar Harapan di Tengah Puing
Di tengah keputusasaan yang melanda, secercah harapan datang dari solidaritas sesama.
Pada Minggu, 23 November 2025, Tim Relawan Warga Pandaan, yang didukung penuh oleh PotretMedia, tiba membawa uluran tangan. Mereka menembus tebalnya abu langsung menuju Dusun Supit Urang, Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo, salah satu titik terdampak paling parah.
Kebutuhan paling mendesak yang disuarakan warga adalah logistik untuk bertahan hidup dan melindungi yang paling rentan: sembako, serta perlengkapan spesifik untuk bayi dan lansia.
Bantuan yang disalurkan bukan sekadar barang, melainkan energi untuk bangkit. Bantuan tersebut mencakup:
Kebutuhan Pokok: Beras, Minyak Goreng, Gula, Kopi, Mie Instan.
Perlengkapan Bayi & Lansia: Popok, Bedak Bayi, Selimut, Obat-obatan.
Kesehatan & Kebersihan: Perlengkapan Mandi, Sabun Cuci Pakaian, Sabun Cuci Piring.
Dapur: Bumbu Masak dan Pakaian Layak Pakai.
Tim relawan disambut dengan kehangatan yang kontras dengan suasana pedih di sekitar. Bantuan diterima oleh perwakilan warga, Ibu Hosima dan Bapak Yunus, yang juga mewakili Bagana (Banser Tanggap Bencana) di lokasi.
Air Mata Syukur di Tengah Abu
Raut wajah penerima bantuan memancarkan campuran antara kesedihan dan rasa syukur yang mendalam.
"Terima kasih banyak atas bantuan dari Potretmedia dan warga Pasuruan. Bantuan ini adalah penguat bagi kami semua," ujar Yunus, mewakili suara hati korban, kepada tim redaksi Potretmedia.
Di bawah langit yang masih diselimuti abu vulkanik, momen penyerahan bantuan ini menjadi pengingat yang kuat: Meskipun alam bisa merenggut segalanya, ia tak akan bisa menghapus jiwa gotong royong dan kemanusiaan yang menyala di hati masyarakat.
Solidaritas ini adalah modal utama bagi warga Semeru untuk perlahan bangkit, menata puing, dan membangun kembali masa depan yang sempat terenggut. (Din)






